Selasa, 17 Juli 2012

cerpen edukasi


Surat Nafa

            Mentari kian condong dan senja mulai menapak perlahan. Terdengar sayup-sayup riang anak-anak jalanan dari kejauhan, pulang dari perjalanan melawan teriknya matahari dan debu jalanan demi beberapa suap nasi untuk hidup esok hari.
            “Kenapa kau masih disini?” satu suara keluar dari seseorang yang menjadi teman dekatnya.
            Jo, dua huruf yang sangat berarti bagi Nafa. Tempat di mana ia selalu mencurahkan kekesalannya, kemarahannya, serta kesedihannya. Tanpa merubah posisi “Aku lebih nyaman disini,” jawabnya pelan masih menyisakan tangis di dada.
            “Tapi orang tuamu pasti khawatir kepadamu jika kau tidak pulang,” Jo mendekat dan duduk di samping Nafa.
            Air mata menyeruak dari kedua bola matanya. Menarik nafas sejenak mengumpulkan tenaga yang tersisa, “Mereka tidak pernah menghawatirkanku, mereka tidak pernah sayang padaku, mereka tidak pernah ada untukku. Jadi peduli apa mereka dengan aku?” sesak Nafa mengeluarkan kata-katanya, cermin kekesalannya terhadap orang tuanya.
            Jo tertunduk, menarik nafas panjang kemudian berdiri lalu duduk kembali tepat di hadapan nafa, “Saat kau sakit dan butuh teman menemanimu siapa yang di sisimu kalau bukan mereka?, saat kau terjatuh dan butuh pegangan siapa yang merangkulmu kalau bukan mereka?, saat kau butuh barang-barang yang kau inginkan siapa yang memberinya kalau bukan mereka?”.
            “Tapi.” Nafa mencoba memotong.
            “Dengarkan aku dulu.” Teriak Jo yang membuat Nafa ketakutan. Jo tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
            “Fa! Kau beruntung memiliki orang yang berada di sisimu saat kau terbangun, membujukmu saat kau menangis. Aku dan teman-teman lainnya apa pernah merasakan itu? Kami tidak pernah merasakannya, kami tidak pernah tahu siapa ibu kami, siapa bapak kami. Yang kami tahu saat kami sadar adalah panasnya matahari dan baunya debu jalanan. Yang kami tahu saat kami sadar adalah bisingnya suara kendaraan yang menari-nari kencang di telinga kami. Kami ingin sepertimu punya keluarga yang utuh. Hanya itu, hanya itu keinginan kami tidak lain.” Keras suara Jo keluar dari dua katub bibir keringnya.
Kemudian Jo kembali melanjutkan, “Orang-orang sepertimu selalu bertanya tentang cinta, cita dan masa depan, tapi apa kau tahu apa yang selalu kami tanyakan? Cuma satu Fa pertanyaan kami. Kalau kami tujuan mengapa kami disia-siakan? Kalau kami akibat siapa yang bertanggung jawab? Cuma itu Fa pertanyaan kami. Kami tidak pernah berpikir tentang cinta, cita dan masa depan. Karna hidup yang kami lalui hanyalah berbuat untuk hidup esok hari, tidak lebih. Kau seharusnya bersyukur mempunyai orang yang kau cintai dan dicintai, hanya saja kau tidak pernah sadar kalau mereka cinta dan sayang kepadamu. Kau terlalu banyak menuntut, kau terlalu meminta berlebihan kepada mereka. Sekarang pulanglah dan mintalah maaf kepada mereka. Jika tidak maka esok kau akan mendapatkan aku dan teman-teman lainya yang tidak peduli kepadamu.”
Jo berpaling, meningalkan Nafa dengan kesendiriannya. Butir-butir kristal telah membasahi matanya. Adzan maghrib memecah keheningan senja di bawah pohon perhentian anak jalanan.   
            Nafa bangkit dari duduknya, menghapus air mata yang dari tadi telah memenuhi telaga di tepian pipi dengan kedua tangan lembutnya. Ia pandangi langit yang menyisakan mega merah di ufuk barat, mengeluarkan segenap kekuatan terbesarnya, mengumpulkan sukmanya pulang kembali. Ia kalah telak, ini penuh kesalahnnya. Dia buat hatinya dialiri kebencian dan dendam terhadap orang yang Ia, Jo dan anak-anak jalanan harapkan.
            Nafa meninggalkan pohon perhentian anak jalanan, ia tidak lagi menyisakan dendam dan kemarahan sebab ia tahu sekarang, orang tuanya sangat menyayanginya, menjadikannya seorang anak dengan identitas anak dari kedua orang tuanya.
***

           



Semenjak senja itu Nafa tak pernah lagi kelihatan, hilang bagai matahari disapa malam, bagai bulan saat fajar membentang. Hilang tanpa jejak, menyisakan kerinduan bagi Jo. Hanya satu yang tersisa dari Nafa, sepucuk surat yang menempel di batang pohon perhentian anak-anak jalanan.

Dear Jo
            Assalamu’alaikum
            Kutulis surat ini dengan dua air mata. Air mata kebahagiaan mempunyai sahabat sepertimu, sahabat terbaik yang pernah kutemui. Dan air mata kesedihan karena harus terpisah darimu.
            Tak ada yang dapat aku katakana selain maaf dan terima kasih. Maaf jika aku tidak sempat berpamitan kepadamu, ini mendadak, aku juga baru tahu kalau ayah dipindah tugaskan. Terima kasih telah memberi arti dalam hidupku, telah mengajariku bagaimana mencintai dan dicintai, mengajariku banyak arti dalam kehidupan yang penuh teka-teki ini.
            Apa yang kau katakan benar, mereka sangat sayang padaku, terbukti mereka sangat cemas dan khawatir saat aku baru pulang, aku melihat sendiri butir-butir kristal mengalir deras dari mata biru ibuku. Aku yang terlalu banyak menuntut mereka. Dalam usia remaja seperti ini seharusnya aku lebih mandiri, tidak perlu meminta kasih sayang berlebihan terhadap mereka karena kasih sayang mereka abadi di hati. Dan kau lah yang menyadarkanku akan itu.
Jo, mengenai pertanyaan yang selalu kau dan anak-anak jalanan tanyakan itu, “Jika kami harapan kanapa kami disia-siakan?, jika kami akibat siapa yang bertanggung jawab?.” Aku sudah menemukan jawabannya. Kalian semua adalah harapan, harapannya Sang Pencipta, harapannya keluarga yang kau cintai, keluarga yang tidak sedarah tapi bahkan justru lebih dari itu, sebatin denganmu. Yang mencintaimu dan kau pun mencintai mereka. Kalian tidak disia-siakan. Kalian hidup untuk cinta, cita dan masa depan, kalian hidup untuk keindahan alam ini.
            Jo, jaga dirimu dan keluargamu, keluarga yang tak sedarah melainkan sebatin denganmu. Dan mulailah berpikir tentang cinta, cita dan masa depan. Meski aku pergi tapi aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku hanya terlepas untuk sementara darimu. Dan aku janji akan kembali kepadamu dan anak-anak jalanan keluargamu.
            Jo, terima kasih atas segalanya. Terima kasih telah pernah bersamaku, terima kasih. Aku janji kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang penuh kebaikan cinta dan senyuman.
            Wassalamu’alaikum
                                                                                                                 Hunafa Ef-Fajria

Senin, 16 Juli 2012

Sebuah Paradigma dan Visi Pendidikan


Sebuah Paradigma dan Visi Pendidikan

masalah bangsa Indonesia yang tak kunjung berakhir, baik di bidang ekonomi maupun politik, di tambah dengan krisis moral yang melanda generasi bangsa Indonesia, kemudian tingginya angka pengangguran yang mencapai 38 juta jiwa. tapi di sisi lain tuntutan tak terelakkan berupa era globalisasi dan pasar bebas yang terus maju, menuntut bangsa Indonesia turut andil secara penuh di dalam percaturan pasar bebas dengan bangsa-bangsa eropa agar tidak tertinggal oleh bangsa lain.
bangsa Indonesia pun terus mencari setiap solusi dari setiap macula yang sedang dihadapi bangsa ini. tetapi, pada satu masalah yaitu masalah pendidikan sebagai salah satu kawah condro dimuko generasi-generasi baru bangsa dalam membangun Indonesia di masa yang akan datang, kini hampir terlupakan. pemerintah masih cendrung pada pencarian solusi masalah kekinian yang bersifat pragmatis belaka, yakni masih pada permasalahan ekonomi dan politik. ini disebabkan karena kurangnya bangsa Indonesia berpikir ke depan untuk mempersiapkan generasi bangsa yang unggul yang akan menggantikan generasi pada masa sekarang.
berbicara tentang pendidikan, tidak cukup hanya berhenti sebatas pengajaran, yakni hanya mentransformasikan pengetahuan yang bersifat kognitif belaka oleh guru kepada murid. tetapi pendidikan harus mencakup seluruh unsur yang terkait dalam pendidikan. seperti orang tua, lingkungan, termasuk guru, sebagai sumber transformasi ilmu kepada murid. salah satu contoh adalah peran orang tua dalam memberikan at-tarbiyah al-asasiyah (pendidikan dasar) yang membentuk karakter pribadi seseorang, maka bentuk kita sekarang salah satunya adalah dipengaruh oleh latarbelakang pendidikan dasar kita di rumah. pendidikan masa depan harus bisa mengambil peran orang tua dalam mengikutsertakan terlaksananya visi dan misi pendidikan. walaupun ada sebagian lembaga pendidikan yang menggantikan peran orang tua dalam mendidik. tetapi tetap saja peran orang tua dalam mendidik tak bisa diabaikan.
merubah paradigma pendidikan dari teaching (pengajaran) menuju learning (pembelajaran). yaitu bagaimana seorang guru meletakkan dirinya menjadi pembelajar bersama dengan peserta didik, karena kebenaran tidak mutlak datang dari guru. dalam artian model belajar yang terpusat pada guru harus ditinggalkan, diganti dengan model belajar aktif dan mandiri yang berdasarkan prinsip-prinsip ilmu kognitif. sehingga peserta didik terlibat penuh dan tumbuh rasa cinta secara alami kepada pelajaran. dan ini sebagai salah satu ciri najahut-tadris. yaitu hamlut-talamidz ‘ala badzlil majhud, sehingga siswa mau menuangkan seluruh tenaganya dan pikirannya dalam pelajaran. dan itu sudah diberikan oleh beberapa lembaga pendidikan, salah satunya adalah gontor, gontor memberikan teori mengajar (survive training) sekaligus prakteknya kepada guru, bahkan terus diadakan evaluasi proses belajar mengajar setiap minggu sebagai usaha untuk meningkatkan proses pengajaran. guru disini harus terus mengadakan Improvement bagi dirinya, sehingga ilmu yang ditransformasikan relevan dengan perkembangan zaman. jika demikian akan terciptanya masyarakat belajar (learning society) pada lembaga pendidikan tersebut.
pendidikan harus menpunyai visi yang jelas, dibawa kemanakah peserta didik yang akan menghadapi tuntutan era globalisasi. dimana-mana para pakar pendidikan terus mengadakan diskusi maupun seminar untuk menbahas visi dan misi pendidikan yang relevan dengan zaman sekarang. ada 4 visi pendidikan yang dicanagkan oleh badan pendidikan dunia, UNESCO (united nation educational scientific and cultural organization).
pertama, learning how to think (belajar berpikir), tujuan visi pendidikan ini berorientasi menciptakan peserta didik yang mampu berpikir logis dan rasional sehingga mampu menyatakan pendapat dan bersikap kritis sekaligus memiliki semangat membaca yang tinggi. karena di era abad 21 kini, sekolah masa depan dituntut untuk dapat mengelola dua jenis kecerdasan. pertama, kecerdasan linguistic, yang mencakup kepada kecakapan dalam berbicara dab bahasa. kedua, kecerdasan logic mathematic, yang mencakup kemampuan yang mengarah kepada problem solving. bahkan seperti yang dikemukakan oleh Daniel goleman, bahwa satu jenis kecerdasan yang tertinggal, yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan yaitu kecerdasan emosional. Daniel mengungkapkan bahwa kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh IQ (intelegence quotion).
kedua, learning how to do (belajar berbuat). aspek yang kedua ini mengarah kepada pembentukan peserta didik yang memiliki kemampuan memecahkan masalah keseharian. dengan kata lain pendidikan diarahkan kepada how to solve the problem. sehingga anak dapat hidup mandiri dan terampil.
ketiga, learning how to live together (belajar hidup bersama). aspek pendidikan yang ketiga berorientasi kepada kemampuan hidup di tengah masyarakat yang majemuk dengan keanekaragaman bahasa, latar belakang dan ethnic. sehingga tertanamkan nilai-nilai toleransi hidup bermasyarakat.
keempat, learning how to be (belajar menjadi diri sendiri). visi yang terakhir ini merupakan sangat penting bagi kehidupan bangsa kita yang sedang dilanda kisis kepribadian. jika saat ini kebanyakan orang melihat seseorang dari segi what you have, what you wear, what you eat. maka visi pendidikan yang keempat bagaimana membuat peserta didik percaya diri, mendiri dan mampu berkembang bagi masa depannya.
setelah terbentuk visi dan misi pendidikan jelas, maka buah dari itu adalah terciptanya masyarakat madani (civilize society) yang semenjak dahulu telah dicita-citakan. yaitu masyarakat yang beradab dimana setiap anggota masyarakat  bisa terus menjalankan aturan yang sudah disepakati bersama.
perbedaan antara masyarakat yang beradab dan masyarakat primitif, jika masyarakat yang beradab tidak akan menjadikan pemenuhan hawa nafsu sebagai hal yang penting dalam hidupnya. tetapi masyarakat primitif menjadikan hawa nafsu sebagai sesuatu yang penting dan tujuanhidupnya. 

PANDANGAN ISLAM TENTANG KONSEP PRODUKSI

PANDANGAN ISLAM
TENTANG KONSEP PRODUKSI

A.  PENDAHULUAN
            Masalah produksi telah mengambil tempat yang sangat luas dalam perkembangan setiap system ekonomi dan banyak menyita perhatian para ekonom serta sering kali hadir dalam pembahasan mereka. Kejadian ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan karena produksi merupakan aspek yang sangat penting dan dominan ketika kita membicarakan masalah-masalah ekonomi, khususnya jika kita fokus pada pembahasan tentang pemenuhan kebutuhan manusia.
            Kata produksi mengalami perkembangan dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan zaman dan pemahaman manusia. Perkembangan ini sangat memungkinkan menimbulkam perubahan pada makna dan ruang lingkupnya. Perkembangan yang menimbulkan perbedaan makna ini terus berjalan hingga sekarang. Oleh karena itu kata produksi yang kita pahami saat ini mungkin tidak sama dengan apa yang dipahami oleh orang-orang terdahulu.

B.  PEMBAHASAN
  1. Beberapa Pandangan Terhadap Produksi
            Pada zaman klasik, orang memandang produksi terbatas pada proses yang menghasilkan barang atau produk tertentu. Pandangan ini menjadikan fokus mereka ketika disebutkan kata produksi secara langsung menuju pada penciptaan barang, baik untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk dalam proses penciptaan barang lain. Pada dasarnya, Marxisme sebenarnya juga mengadopsi pemahaman yang sama dengan pandangan ini, hanya saja mereka menambahkan sedikit, yaitu mereka tidak membatasi produksi pada proses penciptaan barang saja, tetapi juga termasuk di dalamnya penciptaan jasa. Jadi produksi menurut mereka merupakan proses yang tidak hanya menghasilkan barang, tetapi juga jasa.
            Lain lagi dengan pandangan Neo Klasik, dimana mereka mengaitkan produksi dengan unsur manfaat. Sehingga suatu usaha yang menghasilkan manfaat sudah bisa dikatakan sebagai proses produksi. Bahkan usaha yang hanya menambahkan jumlah manfaat yang ada pada suatu barang tertentu juga mereka katakana sebagai proses produksi.
Lalu, bagaimana dengan Islam? Apakah Islam hanya mengamini apa yang mereka katakan? Atau memiliki pemahaman yang berbeda sama sekali dengan pemahaman-pemahaman tersebut. Sebenarnya Islam tidak mempunyai pandangan yang terlalu berbeda dengan pandangan mereka. Islam mengartikan produksi sebagai segala usaha untuk menghasilkan manfaat, baik manfaat bagi individu maupun bagi masyarakat secara umum, penciptaan manfaat ini bisa dilakukan baik dengan jalan penciptaan barang ataupun jasa. Akan tetapi, manfaat yang “Diinginkan” oleh Islam tidaklah sama dengan yang mereka maksudkan. Manfaat dalam Islam terbatas hanya pada wilayah yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya. Kalau pun sesuatu memiliki kegunaan bagi banyak orang, tapi jika hal ini tidak diperbolehkan dalam syari’at, maka tidak bisa dikatakan sebagai manfaat (menurut pandangan Islam). Atau dengan kata lain, manfaat yang dimaksud oleh Islam adalah manfaat yang bersifat “Robbani”. Dan dari itu semua, maka proses produksi sebagaimana yang Islam maksud adalah proses produksi yang tidak menyimpang dari aturan ajaran Islam itu sendiri.
Pada dasarnya, istilah produksi merupakan istilah yang relatif baru dikenal. Istilah ini baru dikenal seiring dengan perkembangan ilmu ekonomi dan dan timbul secara alamiyah di kalangan mereka. Dalam Islam sendiri, istilah ini belum melalui masa yang lama. Hal ini sangat wajar karena dalam Islam istilah yang ada hanyalah kata “Amal” atau kerja. Mungkin kepada kata inilah kata produksi dinisbatkan oleh para ekonom kontemporer. Kata “Amal” dalam Islam memiliki cakupan yang lebih luas jika dibandingkan dengan produksi, karena “Amal” dalam Islam mencakup ibadah dan muamalat dan berorientasi pada tujuan ganda, yaitu tujuan yang bersifat materi dan tujuan yang bersifat non-materi. Yang kami maksud dengan tujuan materi ini adalah dunia, sedangkan non-materi adalah tujuan akhirat.
Dengan tanpa meniadakan perbedaan pendapat sebagaimana disebutkan di atas, sekarang kita akan membahas lebih lanjut mengenai apa yang kita kenal sebagai “Faktor-faktor produksi”. Mengenai faktor produksi ini, kalangan ekonom kapitalis menyebutkan bahwa setidaknya ada empat faktor produksi, yaitu: alam, modal, tenaga kerja, dan kewiraswastaan atau manajemen. Lain halnya dengan Sosialis, dimana mereka hanya mengakui satu faktor produksi, yaitu “Tenaga kerja”. Ketiga faktor produksi yang lain pada dasarnya masih mereka akui keberadaannya, hanya saja tidak dianggap sesuatu yang terlalu penting.
Kalau kita amati semua faktor produksi yang diajukan oleh system ekonomi Kapitalis dan Sosialis di atas, maka akan kita dapati bahwa semuanya kering dari unsur “Ketuhanan”. Maka Islam, sebagai system ekonomi yang bersifat “Religius” mencoba memberikan alternatif dengan pandangan-pandangan yang baru tentang faktor produksi. Faktor-faktor peroduksi yang dimaksud adalah: alam, tenaga kerja, dan taqwa. Baiklah, sekarang akan kita bahas secara singkat satu-persatu dari ketiga hal tersebut.
  1. Sumber Daya Alam
            Pakar ekonom Kapitalis beranggapan bahwa alam ini mempunyai sifat yang “Kikir”, dalam artian bahwa alam ini tidak mampu menyediakan bahan-bahan yang bisa digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sumber daya alam dianggap sangat terbatas persediaannya, sedangkan kebutuhan manusia selalu bertambah dan bertambah dan tidak ada batas akhirnya. Anggapan-anggapan di atas sebenarnya sangat menyesatkan. Sebab berangkat dari anggapan inilah maka manusia secara tidak langsung dituntun untuk bersifat serakah; berusaha dengan sekuat tenaga memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang tak terbatas dengan alat pemuas yang terbatas.

            Benarkah alam ini tidak cukup untuk menghidupi seluruh makhluk yang hidup di atasnya? Yang jelas, Allah menciptakan makhluk-Nya dan bertanggung jawab atas penghidupan mereka. Oleh kerena itu, tidak hanya diciptakan kemudian ditinggalkan, akan tetapi juga disediakan alam sebagai sumber penghidupan. Sebagai sumber penghidupan, tentu alam ini tidak memiliki sifat kikir sehingga tidak memenuhi kebutuhan manusia sebagaimana yang digambarkan oleh pendukung Kapitalis.
            Untuk menghilangkan kekhawatiran manusia akan kekurangan alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, Allah menegaskan dalam Al-qur’an surat Ibrohim ayat 32-33 bahwa bumi, langit, dan segala yang ada di dalamnya diciptakan dan ditundukkan untuk kemakmuran manusia. Alam juga dikatakan dalam ayat berikutnya sebagai suatu nikmat yang tak terhitung jumlahnya dari Allah SWT bagi manusia.
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur tAtRr&ur šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr'sù ¾ÏmÎ/ z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%øÍ öNä3©9 ( t¤yur ãNä3s9 šù=àÿø9$# y̍ôftGÏ9 Îû ̍óst7ø9$# ¾Ín̍øBr'Î/ ( t¤yur ãNä3s9 t»yg÷RF{$# ÇÌËÈ   t¤yur ãNä3s9 }§ôJ¤±9$# tyJs)ø9$#ur Èû÷üt7ͬ!#yŠ ( t¤yur ãNä3s9 Ÿ@ø©9$# u$pk¨]9$#ur ÇÌÌÈ  
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.
 Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.
                                             
            Perlu diketahui bahwa keberadaan manusia di alam ini adalah sebagai wakil Allah untuk memakmurkan bumi. Sebagai kholifah, manusia dibekali kemampuan dan ketrampilan untuk untuk mengolah alam ini, juga diberikan hak milik atas beberapa aset yang ada di atasnya dengan kepemilikan yang terbatas. Secara umum kepemilikan manusia terbagi menjadi dua, yaitu kepemilikan khusus atau pribadi dan kepemilikan umum dan publik. Baik kepemilikan khusus maupun kepemilikin umum, kedua-duanya mendapatkan pengakuan dan perlindungan oleh Islam. Hal ini sangat berbeda tatkala kita membandingkannya dengan yang ada pada ekonomi kapitalis dan sosialis; dimana kapitalis memberikan hak kepemilikan kepada individu tanpa adanya batasan-batasan tertentu, sehingga sangat mungkin terjadinya penguasaan sebagian besar kekayaan alam oleh segelintir orang saja. Sebaliknya, ekonomi Sosialis hanya mengakui kepemilikan umum dan menganaktirikan kepemilikan pribadi.
            Meskipun Islam memberikan hak kepemilikan kepada manusia atas kekayaannya, namun Islam juga mengimbangi dengan batasan-batasan tertentu sehingga tidak terjadi kekacauan sebagaimana yang terjadi di dua system ekonomi di atas. Batasan-batasan tersebut berupa “Syari’ah”, dimana diatur di dalamnya hal-hal yang menyangkut cara dan bagaimana seharusnya hak milik itu diperlakukan. Sekali lagi, keterbatasan tersebut sebagai konsekuensi dari kedudukannya sebagai Kholifah fil ardh. Lebih lanjut, hak kepemilikan atas sesuatu juga selalu diiringi dengan kewajiban. Maka Islam mengaitkan harta yang dimiliki dengan kewajiban membayar zakat, membelanjakannya di jalan Allah, mendistribusikannya kepada yang berhak, dan lain sebagainya.
  1. Kerja dan Tenaga Kerja
            Sumber daya alam selalu berkaitan erat dengan kerja untuk menjalankan fungsinya sebagai faktor produksi. Tersedianya sumber daya alam tanpa dibarengi dengan tenaga kerja yang mengolah alam tersebut tentu tidak akan terjadi proses produksi. Maka, tenaga kerja juga memegang peranan yang sangat fital dalam sebuah proses produksi. Dan oleh karena itulah, para ekonom Kapitalis menyebut sumber daya alam dan tenaga kerja sebagai faktor produksi yang paling pokok.   
            Islam mengaitkan secara erat antara rizki seseorang dengan kerja. Besar kecilnya rizki seseorang yang akan diterima sangat tergantung pada usaha orang tersebut untuk meraihnya. Keadaan suatu kaum tidak akan berubah dengan sendirinya kalau tidak ada usaha untuk merubahnya sendiri. Demikianlah kiranya yang dapat kita ambil dari kandungan ayat Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 11;
 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri.
Memang, ada kalanya kita mendapatkan rizki yang tanpa kita usahakan sebelumnya, seperti pembearian dari orang lain yang tak diduga-duga; namun hal itu tidak bisa kita jadikan tumpuan hidup. Islam sama sekali tidak menghendaki umatnya menggantungkan hidupnya pada belas kasihsan dari orang lain. Maka dalam Hadist dikatakan bahwa yang terbaik adalah kita makan dari hasil keringat kita sendiri.
Bekerja dalam kamus istilah ekonomi berarti segala usaha maksimal yang dilakukan manusia, baik lewat gerak anggota tubuh ataupun akal untuk menambah kekayaan; baik itu dilakukan secara perorangan ataupun kolektif, baik untuk pribadi maupun untuk orang lain. Dari pengertian tersebut, jelas bahwa kerja bukan terbatas pada aktivitas fisik saja, dan juga tidak terbatas pada aktifitas yang menghasilkan manfaat bagi diri sendiri.
Dalam hal seseorang bekerja untuk orang lain, ia berhak mendapatkan kompensasi berupa gaji atau upah. Upah adalah hak bagi pekerja dan kewajiban bagi orang yang mempekerjakan. Mengenai upah ini, Rasulullah memerintahkan untuk memberikan upah kepada pekerja secepatnya setelah pekerjaan yang diperjanjikan selesai, bahkan sebelum keringatnya kering. Sedangkan besarnya gaji atau upah tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak. Meskipun diserahkan kepada hasil kesepakatan, besarnya upah tersebut (minimal) harus sejumlah tertentu yang sekiranya bisa untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Bagaimanapun, seorang pegawaiadalah partner; maka seorang majikan harus selalu memperhatikan apa yang menjadi hak-hak pekerjanya. Diantara hak-hak itu adalah hak untuk mendapatkan gaji yang layak, hak mendapat bimbingan ketrampilan, hak atas jaminan keselamatan kerja, hak untuk ikut berpartisipasi dalam menentukan kebijakan yang menyangkut karyawan atau pekerja, dan hak untuk mendapatkan reward atas prestasi yang diraih.
Sebagai seorang partner dalam bekerja; buruh, karyawan, ataupun pekerja tidak boleh diperlakukan seperti budak yang bisa diperintah untuk melakukan apa saja dan kapan saja. Mereka jelas mempunya batas kemampuan yang berbeda-beda dan membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Oleh karna itu, Islam benar-benar melarang membebankan suatu pekerjaan yang berada di luar kemampuannya. Dan Allah sendiri tidak membebani hamba-Nya kecuali sesuai dengan kemampuannya.
  1. Taqwa
            Inilah yang menjadi karektristik dan kelebihan ekonomi Islam dibandingkan dengan system ekonomi yang lain. System ekonomi Islam secara umum bisa dikatakan merupakan bagian dari ajaran Islam, dimana tidak hanya berorientasi pada kesejahteraan di dunia, tetapi juga kesejahteraan di akhirat. Konsekuensinya adalah semua kegiatan ekonomi selalu terikat oleh batasan hala dan haram. Dan hanya orang-orang yang “Taqwa” yang selalu memperhatikan unsur kehalalan segala sesuatu sebelum mengambil tindakan. Dengan demikian, jelaslah alasan mengapa taqwa termasuk salah satu faktor produksi dalam ekonomi Islam.

C.  PENUTUP
            Ketiga faktor produksi yang dijelaskan di atas tadi merupakan rumusan yang tidak mutlak, karena memang hingga saat ini masih terjadi perdebatan. Sebagai contoh, Muhammad bin Ibrohim Al-Khotibi dalam bukunya Mabadi Al-Iqtishod Al-Islami menyebutkan empat faktor produksi yang sama dengan apa yang ada dalam ekonomi Kapitalis. Hanya saja beliau memasukkan unsur-unsur “Keislaman” ke dalamnya, yang mana jika kita telusuri pada dasarnya mempunyai esensi yang tidak berbeda dengan tiga faktor yang telah disebutkan di atas. Maka dalam mempelajari ekonomi Islam kita akan mendapati beberapa persamaan dengan apa yang kita lihat dalam system-system ekonomi yang lain; namun kesamaan ini hanya ada pada kulitnya, sedangkan nilai-nilai yang dijadikan landasan untuk berpijak sangatlah berbeda.